MENU
meetup-99designs

by • February 14, 2012 • Desain, SharingComments (9)4937

MeetUp 99Designs: Menjaga Perilaku Desainer di Ajang Crowdsourcing

Istilah crowdsourcing tidak lagi terdengar asing bagi sebagian desainer yang memilih untuk bekerja freelance secara online. Salah satunya adalah 99Designs.com yang menjadi tempat berkompetisi para desainer grafis di seluruh dunia. Begitupun di Indonesia, 99Designs sudah terdengar akrab ditelinga para desainer grafis.

Sesuatu banget ketika mereka yang biasanya hanya berkutat didunia online, menyapa lewat online, ngobrol via chat, misuh lewat tulisan, pada tanggal 12 Februari 2012 melalui sebuah event bertajuk “Meetup 99 Designs | Yogyakarta – Indonesia“, mereka berkumpul empat mata di Rumah Makan Den Nanny Jogja, Jl. Taman Siswa. Acara ini terbilang cukup sukses dengan hadirnya kurang lebih 80 desainer dari Jogja dan sekitarnya seperti Jepara, Pati, Magelang, Salatiga, Solo, Semarang bahkan ada yang jauh-jauh datang dari Bandung khusus untuk mengikuti meetup ini.

“Pada awalnya hanyalah iseng-iseng saja tetapi ternyata mendapat sambutan antusias dari temen-temen di 99Designs. Ya akhirnya kita jadikan saja event MeetUp Jogja mumpung 99Designs memfasilitasinya juga”, kata Joe Dexter sang penggagas acara ini.

Saya tidak perlu membeberkan detail acara ini, tetapi yang jelas ada satu poin penting yang diselipkan pada meetup kali ini, yaitu RESOLUSI DESAINER GRAFIS. Tujuannya adalah untuk memperbaiki citra desainer crowdsourcing dari Indonesia pada umumnya dmana selama ini dipandang rendah oleh desainer dari negara lain sebagai desainer yang tidak punya kualitas entah dari kualitas desain maupun attitude yang tidak patut diteladani.

meetup-99designs

Secara garis besar, resolusi tersebut adalah sebagai berikut:

FAKTA-FAKTA

  1. Beberapa orang dari Indonesia melakukan kecurangan dengan mencuri gambar dari internet, memolesnya sedikit lalu mengakui sebagai karya orisinil yang mereka ciptakan. Mereka tidak peduli harga diri mereka terlebih harga diri bangsa dengan dalih tekanan ekonomi.  Mereka tidak pernah belajar bahwa setiap karya memiliki hak cipta yang dilindungi oleh hukum.
  2. Beberapa orang dari Indonesia yang kaya kreativitas tetapi miskin moralitas dan etika. Mereka banyak mengumpat dan menulis komentar yang tidak pantas di arena crowdsourcing. Mereka seakan lupa bahwa komentar mereka dibaca oleh banyak orang dari penjuru dunia.
  3. Beberapa orang dari Indonesia yang menganggap desainer grafis yang biasa bergelut di dunia crowdsourcing sebagai desainer yang putus asa, tidak mendapat tempat dan merusak fondasi tentang bagaimana proses desain itu bekerja.

RESOLUSI

  • Kami sudah bosan sekaligus sedih mendengar cibiran desainer dari negara lain bahwa desainer grafis dari Indonesia adalah desainer kelas tiga, tak berkonsep, tanpa intuisi , desainer image stock dan cercaan lain yang ditujukan kepada kami yang berkecimpung di ajang crowdsourcing.
  • Kami miris dan risih membaca komentar yang tak beretika yang ditulis oleh desainer dari Indonesia.
  • Bersama-sama meminimalisir tindakan dan sikap yang tidak seharusnya di ajang crowdsourcing agar tidak dianggap sebagai desainer tanpa fondasi dan tanpa konsep bahkan dianggap sebagai desainer yang ‘tak pantas’.
  • Kami membuka diri dan sangat berterimakasih apabila ada desainer grafis dari negara lain yang mau menghubungi salah satu desainer Indonesia apabila menemukan perilaku orang-orang dari Indonesia seperti pada fakta pertama dan kedua.
  • Kami akan selalu berusaha meluruskan orang-orang yang berperilaku tidak benar tersebut dengan menegur dan mengingatkan bahkah melaporkan pada pihak yang berwenang apabila ada tindakan yang melanggar hukum seperti pelanggaran hak cipta, pencurian logo dan lain-lain.

Demikian ringkasan resolusi yang diharapkan bisa menjadi pengingat dan pembelajaran bahwa meskipun bekerja pada ajang crowdsourcing namun tetap harus jujur dan bersih, menjaga kemurnian kreativitas serta menghilangkan perilaku buruk yang merusak citra profesi desainer pada khususnya, terlebih harga diri Indonesia.

meetup-99designs

Akhirnya, acara yang sudah agak molor ditutup dengan performing art graffiti on the board. Corat coret di papan untuk memunculkan sebuah gambar otak sebagai sumber kreativitas menuangkan ide dan konsep dalam bentuk visual.  Semoga videonya akan segera keluar.

meetup-99designs

People think that design is styling. Design is not style. It’s not about giving shape to the shell and not giving a damn about the guts. Good design is a renaissance attitude that combines technology, cognitive science, human need, and beauty to produce something that the world didn’t know it was missing.

— PAOLA ANTONELLI

happy wheels

Related Posts

9 Responses to MeetUp 99Designs: Menjaga Perilaku Desainer di Ajang Crowdsourcing

  1. uyunq says:

    Jika dihubungkan dengan efisiensi waktu dan perilaku orang yg cenderung lebih suka instan, crowdsourcing bisa menjadi pilihan bagus. Just my opinion : )

    • Arwan says:

      Cuman kadang ada desainer yg berperilaku tidak jujur dalam berkreativitas. Efeknya tidak hanya pada desainer itu sendiri tapi juga klien pada akhirnya akan dirugikan jika ia tidak teliti dalam menyeleksi desain yg ia nominasikan.

  2. ferry says:

    gak donk kang aku, pokok e hok oh wae 😀

  3. yes yes aku ono fotoku yes…. kaos lorek lorek 😀

  4. mantaaab dan patut direnungi dan di amalkan, suka atau tidak suka, mudah maupun sulit karena ini sebuah konsekuensi, reputasi dan citra diri 🙂

  5. angger says:

    99designs tidak menarik lagi bagi CH dan desainer….banyak yang komplain dan membatalkan kontes….

Komentar?